Kamis, 17 November 2011

Pemerintah Utamakan Jembatan Selat Sunda Dibanding JSM

 

 

 

 

Pemerintah menegaskan, lebih mengutamakan proyek Jembatan Selat Sunda (SSS) ketimbang Jembatan Selat Malaka (JSM).

”Kita tidak akan pernah ke Jembatan Malaka dulu. Sebelum kita berhubungan dengan luar negeri, masalah dalam negeri dulu kita bereskan. Harus JSS dulu. Nasionalismenya begitu,” kata Menteri Pekerjaan Umum, Djoko Kirmanto kepada pers, di Jakarta, Senin.

Ia juga menegaskan, bahwa penerbitan peraturan presiden (perpres) terkait penyelenggaran badan pengelola kawasan khusus Jembatan Selat Sunda (JSS) ditargetkan tuntas pada akhir 2011. “Akhir tahun ini jadi. Sebab, hal tersebut sudah menjadi konsensus kita semua,” katanya.

Menteri PU menambahkan bahwa rancangan perpres tersebut saat ini sedang dievaluasi kembali di sekretariat kabinet, setelah sebelumnya dievaluasi dan diteken oleh dirinya serta Menteri Koordinator Bidang Perekonomian.
”Jadi, kemarin setelah kita evaluasi, ada perubahan sedikit karena dalam perpres itu menyebutkan bahwa pengembangan penataan ruangnya harus sesuai dengan Kawasan Strategis Nasional dari Selat Sunda. Ternyata kawasan itu masih dalam proses. Jadi, kita hapus dan diganti dengan Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional saja,” katanya.

Sebelumnya, peraih gelar Perekayasa Utama Kehormatan oleh Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Wuratman Wangsadinata menyebutkan, pembangunan JSS diperkirakan menghabiskan waktu selama 10 tahun.

”Normalnya dibutuhkan waktu sekitar 10 tahun untuk pembangunan Jembatan Selat Sunda,” katanya saat menyampaikan prastudi kelayakan yang telah diselesaikan oleh Wiratman dan Associates atas penugasan dari PT Bangungraha Sejahtera Mulia-Artha Graha Network.

”Total biaya pembangunan dengan menggunakan standar harga pada 2009 diperkirakan mencapai sembilan miliar dolar AS,” katanya.

Biaya tersebut, dikatakan Wiratman belum memperhitungkan eskalasi harga, bunga bank serta tidak termasuk biaya untuk pengembangan wilayah Selat Sunda. (tk/ant)


Rencana Spesifikasi JSS

JEMBATAN
 Selat Sunda direcananakan sepanjang sekitar 29 km akan terhubung dengan jalan tol Jakarta-Merak serta rencana jalan tol Cilegon-Ciwandan sepanjang 14 km dan rencana jalan tol Bakauheni-Bandar Lampung-Metro sepanjang sekitar 80 km.

Konsepnya terdiri atas dua jenis sistem yaitu jembatan gantung ultrapanjang dari baja untuk melangkahi palung-palung lebar dan Viaduct beton pracetak balanced cantilever untuk lintasan selebihnya.

Wiratman menjelaskan, jembatan viaduct beton dipilih karena bahan dasarnya dapat diproduksi di dalam negeri seperti agregat, semen, baja tulangan. Sedangkan kontruksinya tidak memerlukan teknologi yang tinggi serta akan menyerap tenaga kera lokal dalam jumlah yang sangat besar sehingga sangat berdampak terhadap perkembangan ekonomi lokal maupun regional.

Jembatan Selat Sunda direncanakan memiliki ruang bebas vertikal 85 meter di atas permukaan laut tertinggi agar lebih tinggi dari tinggi udara terbesar serta memperhitungkan efek kenaikan elevasi air laut akibat pemanasan global.

Sementara itu, bebas horizontal jembatan gantung Selat Sunda adalah 2.100 m sehingga memenuhi persyaratan lalu lintas kapal bebas satu arah.

Desain struktur atas jembatan mengacu pada desain jembatan Selat Messina yang memiliki bentang 3.300 m, sedangkan desain stuktur bawahnya mengacu pada desain jembatan Akashi Kaikyo di Jepang yang memiliki bentang 1.991 m.

Direncanakan juga jembatan Selat Sunda memiliki lebar total 60 m terdiri atas tiga lajur lalu lintas masing-masing arah selebar 3x3,75 m, dua lintasan kereta api selebar 10 m, lajur pemeliharaan masing-masing selebar 5,05 m. (tk/ant)

sumber: http://www.jembatanselatsunda.com

http://www.investor.co.id/home/pemerintah-utamakan-jembatan-selat-sunda-dibanding-jsm/23239

Tidak ada komentar:

Posting Komentar